<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2426781968670182990</id><updated>2012-02-01T18:42:58.515-08:00</updated><title type='text'>Komunitas Sastra</title><subtitle type='html'>Tempat para penulis pemula terutama anak-anak SMA untuk berkarya dalam bidang sastra</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://narkus.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2426781968670182990/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://narkus.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>NARKUS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11591169986242294786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-wL6uuYcQCv0/TXdzXIbrooI/AAAAAAAAAA8/qoP7vtnrfsI/s220/Foto084.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>3</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2426781968670182990.post-7902013986086221344</id><published>2011-03-10T06:04:00.001-08:00</published><updated>2011-03-10T06:04:55.120-08:00</updated><title type='text'>DRAMA</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="uiHeaderTitle"&gt;Mencipta Teater Berdasarkan Naskah&lt;/h3&gt;&lt;div class="mtm fbGroupDoc"&gt;&lt;strong&gt;Oleh: R Giryadi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat teater bermula dari upacara-upacara pemujaan keagamaan di Yunani sekitar 500 tahun sebelum Masehi. Dari upacara-upacara keagamaan inilah pertumbuhan drama/teater mulai muncul. Upacara-upacara keagamaan pada saat itu menggunakan topeng-topeng yang menggambarkan roh nenek moyang. Dan masing-masing orang memerankan atau merasuki roh nenek moyang yang dimaksud. &amp;nbsp;Dari situlah, pola-pola seni pertunjukan terbentuk.&lt;br /&gt;Nah, seiring perkembangan pemikiran manusia, cerita-cerita tentang mythos roh nenek moyang terus hidup. Namun lambat laun mythos pun juga tergusur seiring dengan munculnya nilai-nilai baru. Agama atau upacara-upacara lambat laun juga terpisah. Demikian juga fungsi aktor dan pendeta juga terpisah. Inilah yang kemudian oleh Oscar G. Brockett&amp;nbsp; disebut &lt;em&gt;‘the material for drama’&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;Namun kunci untuk memahami asal-usul teater terdapat pada tulisan-tulisan Aristoteles. Menurut Aristoteles, manusia mempunyai naluri untuk meniru, dan manusia juga senang meniru orang lain, dan juga senang melihat hasil tiruannya. Aristoteles menekankan: peniruan merupakan metode ajar manusia dalam memahami duniannya.&lt;br /&gt;Aristoteles dalam bukunya yang berjudul &lt;em&gt;Poetics&lt;/em&gt; mengatakan, plot (jalan cerita) adalah peniruan terhadap lakon (action). Waktu seseorang menulis naskah drama atau membacanya, menonton naskah tersebut dipentaskan, pada dasarnya orang tersebut melakukan peniruan, baik secara khayali ataupun secara jasmani terhadap lakon.&lt;br /&gt;Adanya plot atau jalinan peristiwa-peristiwa kalau ditelaah lebih jauh ternyata merupakan akibat dari adanya kegiatan yang terarah dari salah satu atau beberapa tokoh cerita&amp;nbsp; (tokoh utama). Dari awal sampai akhir cerita tersebut terjalin peristiwa dan bahkan dari berbagai anak kisah. Naskah drama sebagai cerita memiliki hal-hal yang sama, yaitu awal dan akhir cerita.&lt;br /&gt;Pertunjukan teater/drama disebut pula sebagai tontonan yang ephemeral, artinya bermula suatu malam dan berakhir pada malam yang sama. Karena peristiwa yang ditampilkan di pentas itu bisa menggambarkan kejadian yang berlangsung dalam jangka waktu lama, maka harus jelas karakteristik mana bagian awal, bagian tengah dan bagian akhirnya.&lt;br /&gt;Dalam pementasan suatu drama, unsur utama yang dapat menghidupkan naskah lakon di atas pentas adalah laku (action), atau sering disebut gerak laku. Nilai dramatik&amp;nbsp; yang terkandung di dalamnnya diperoleh oleh laku tersebut, sedangkan laku dapat muncul karena adanya konflik dalam lakon.&lt;br /&gt;Dalam seni drama, suasana akan lebih hidup, lebih bergerak, dan lebih dinamis apabila didalamnya terdapat konflik dan benturan-benturan. Dalam setiap drama yang baik pasti di dalamnnya ada masalah yang dengan sendirinya akan melahirkan konflik.&lt;br /&gt;Karena itulah hakekat seni drama adalah pengungkapan dalam bentuk laku (action) segala gejala psikis (kemampuan kejiwaan) yang terkandung dalam diri manusia setelah mendapat rangsangan dari konflik-konflik.&lt;br /&gt;Lakon sebagi suatu karya teater/drama belumlah lengkap sebagai suatu karya seni teater, sebelum lakon tersebut dipentaskan di atas panggung atau divisualkan, yaitu diperagakan secara visual di atas panggung.&lt;br /&gt;Sementara itu untuk bisa mengungkapkan bentuk visual pertunjukan, seseoarang perlu mengenal dramaturgi. Dramaturgi, merupakan ilmu yang mengumkapkan seluk beluk lakon untuk dapat dipertunjukan atau divisualkan dalam ujud peragaan di atas panggung.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Naskah Teater&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam mempersiapkan sebuah pertunjukan, naskah lakon salah satu materi utama yang berperan sebelum sampai ke tangan para sutradara dan para aktor. Naskah dapat berdiri sendiri sebagai karya sastra (bahan bacaan) ia berdiri sebagai teks yang bebas ditafsir oleh pembacanya. Namun ketika naskah akan dipentaskan ia akan melalui proses interpretasi dalam format yang khusus.&lt;br /&gt;Naskah drama/teater berasal dari penulis naskah (&lt;em&gt;playwright&lt;/em&gt;). Ia disebut sebagai seniman (sastrawan), sedang para pemeran, sutradara, produser, penata pentas dan lainnya disebut sebagai interpretative artists.&lt;br /&gt;Lakon adalah hasil karya sastra yang berupa cerita dan disusun untuk keperluan pementasan dan pertunjukan. Sebuah lakon yang bagus adalah apabila lakon tersebut&amp;nbsp; baik dari segi tema, isi cerita maupun daya panggung (daya untuk dipentaskan).&lt;br /&gt;Naskah yang akan dipentaskan biasanya melalui dua intansi, penulis naskah dan sutradara baru kemudian pemeran (aktor), dan pekerja artistik lainnya. Dari penulis, naskah menawarkan ide. Malaui sutradara, naskah ditafsirkan dan diberikan kepada pemeran dan pekerja artistik lainnya untuk ditafsirkan lagi. Namun, biasanya, sutradara memiliki peran utama untuk memberikan arahan dalam menafsirkan naskah.&lt;br /&gt;Bagi seorang sutradara,pemilihan lakon juga bukan sekedar memilih isi cerita dan temanya saja. Tetapi juga apa yang merangsang dirinya, jika lakon tersebut, harus tergambar adanya kemungkinan diperagakan secara visual.&lt;br /&gt;Dalam menyusun naskah, pengarang harus memperhatikan nilai dramatik naskah tersebut. Karena itu, seorang penulis naskah lakon setidaknya mengerti tentang seni pertunjukan. Karena, seorang penulis naskah perlu bisa membayangkan/ menggambarkan secara visual naskah yang dibuatnya.&lt;br /&gt;Sebuah naskah lakon secara teknis harus sudah disusun dengan mempertimbangkan masalah yang diperlukan untuk dapat dipertunjukan. Disamping itu, harus disusun pula bentuk dialog (pecakapan), yang bukan sekedar mejalankan cerita, tetapi harus dapat menggambarkan watak para pendukung cerita. Dialog yang diucapkan pemain harus dapat memberi gambaran tentang watak pemain tersebut.&lt;br /&gt;Dalam suatu pementasan naskah lakon masalah utama yang didapati sutradara dengan awak pentas ialah bagaimana medium verbal sastrawan dapat diterjemahkan dan bahkan diperkuat daya ungkapnya dengan media audio visual, kinetik, dan verbal dalam menyampaikan nilai-nilai pengalaman itu dalanm wujud secara visual.&lt;br /&gt;Naskah yang baik, dapat dikatakan bila naskah itu kaya dengan ide-ide, baik dilihat dari sudut filsafat, sosial, kultural, puitis dan asli bukan tiruan. Dari ide-ide yang ditawarkan penulis naskah, ada perjalanan penafsiran, ada perjalan kreatif yang harus ditempuh untuk mewujudkan (mevisualisasikan) teks-teks dalam naskah (lakon).&lt;br /&gt;Seorang penulis naskah akan menuangkan ide-ide&amp;nbsp; ceritanya menurut dorongan dalam visi artistiknya, dengan berbagai kecenderungan bentuk dan gayanya.&amp;nbsp; Mungkin mereka akan melahirkan naskah-naskah konvensional, dengan segala tertib teknisnya, tetapi mungkin pula ia melahirkan naskah-naskah eksperimental dengan sosok bentuk yang lebih bebas.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Memilih Naskah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sebelum pentas, seorang sutradara atau produser pementasan akan melakukan pemilihan naskah yang akan dipentaskan. Pemilihan naskah ini bisa merupakan jawaban dari obsesi artistik tertentu atau bisa juga obsesi dari tema tertentu yang kontekstual dengan zaman.&lt;br /&gt;Bagi kelompok teater yang tidak mempunyai penulis naskah sendiri, mereka akan melakukan observasi beberapa naskah yang dirasakan cocok untuk dipentaskan. Begitupun, naskah yang akan dipentaskan masih harus disesuaikan dengan kondisi SDM. Karena itu bagi kelompok teater yang tidak memiliki penulis naskah, perlu melakukan pengkajian secara seksama tentang naskah yang akan dipentaskan.&lt;br /&gt;Mementaskan teater dengan naskah yang sudah tersedia memiliki kerumitan tersendiri terutama pada saat hendak memilih naskah yang akan dipentaskan. Naskah tersebut harus memenuhi kreteria yang diinginkan serta sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan. Ada beberapa pertimbangan yang dapat dilakukan oleh sutradara dalam memilih naskah, seperti tertulis di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Sutradara menyukai      naskah yang dipilih&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sutradara merasa      mampu mementaskan naskah yang telah dipilih. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sutradara wajib      mempertimbangkan sisi pendanaan secara khusus. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sutradara mampu menemukan      pemain yang tepat. Sutradara harus mampu mengukur kualitas sumber daya      pemain yang dimiliki dalam menentukan naskah yang akan dipentaskan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sutradara mampu      tetap mementaskan naskah yang dipilih. Sutradara dengan segenap kemampuannya      harus mampu meyakinkan pemain dan mengusahakan pertunjukan agar tetap      digelar sehingga proses yang telah dilakukan tidak menjadi sia-sia.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Membuat naskah lakon sendiri tidak menguntungkan karena akan memperpanjang proses pengerjaan. Akan tetapi berkenaan dengan sumber daya yang dimiliki, membuat naskah sendiri dapat menjadi pilihan yang tepat.&lt;br /&gt;Untuk itu, sutradara harus mampu membuat naskah yang sesuai dengan kualitas sumber daya yang ada. Naskah semacam ini bersifat situasional, tetapi semua orang yang terlibat menjadi senang karena dapat mengerjakannya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Langkah Menulis Naskah Lakon.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Menentukan tema.      Tema adalah gagasan dasar cerita atau pesan yang akan disampaikan oleh      pengarang kepada penonton. Tema, akan menuntun laku cerita dari awal      sampai akhir. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menentukan      persoalan. Persoalan atau konflik adalah inti dari cerita teater. Tidak      ada cerita teater tanpa konflik. Oleh karena itu pangkal persoalan atau      titik awal konflik perlu dibuat dan disesuaikan dengan tema yang      dikehendaki. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Membuat sinopsis      (ringkasan cerita). Sinopsis digunakan pemandu proses penulisan naskah      sehingga alur dan persoalan tidak melebar. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menentukan kerangka      cerita. Kerangka cerita akan membingkai jalannya cerita dari awal sampai      akhir. Kerangka ini membagi jalannya cerita mulai dari pemaparan, konflik,      klimaks sampai penyelesaian. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menentukan      protagonis. Tokoh protagonis adalah tokoh yang membawa laku keseluruhan      cerita. Dengan menentukan tokoh protagonis secara mendetil, maka tokoh      lainnya mudah ditemukan. Menulis lawan dari sifat protagonis maka karakter      antagonis dengan sendirinya terbentuk. Jika tokoh protagonis dan antagonis      sudah ditemukan, maka tokoh lain baik yang berada di pihak protagonis atau      antagonis akan mudah diciptakan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menentukan cara      penyelesaian. Akhir cerita yang mengesankan selalu akan dinanti oleh      penonton. Oleh karena itu tentukan akhir cerita dengan baik, logis, dan      tidak tergesa-gesa.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;strong&gt;Struktur Naskah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam menyusun naskah lakon, seorang pengarang secara teknis perlu memperhatikan masalah-masalah berikut:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Watak-watak pendukung cerita      lengkap dengan karakteristik dari tokoh yang dicipta.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Adegan cerita yangh disusun.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Benturan-benturan konflik yang      menyebabkan jalan cetia mempunyai nilai dramatik, baik konflik di antara tokoh-tokohnya      maupun konflik antara persoalannya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tempo, irama, harmoni,      keseimbangan di dalam alur cetria secara keseluruhan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Semua unsur di atas diolah sehingga menghasilkan suatu bentuk cerita yang dapat dengan mudah diperagakan secara visual dan dipertunjukan. Secara teknis lakon tersebut memenuhi persyaratan untuk dapat dipertunjukan.&lt;br /&gt;Sementara itu dalam menulis naskah lakon juga perlu memperhatikan struktur naskah. Dr. Boen S. Oemarjati, menyebutnya sebagai struktur lakon. Menurutnya struktur lakon itu terdiri dari: (a). Pemaparan, (b). Penggawatan, (c). Klimaks, (d). Peleraian/anti klimaks, (e). Penyelesaian/konklusi.&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Pemaparan&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Yang menggambarkan tentang tempat, kejadian dab wataj, mood dan kemungkinan-kemungkinan tentang kadar kenyataan. Pada bagian ini menuntun plot ke sutau titik di mana konflik atau isu awal menjadi jelas.&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Penggawatan&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;terdiri atas serangkaian komplikasi. Komplikasi adalah unsur yang dimaksukkan ke dalam drama yang akan mengyubah arah gerak drama itu. Pada bab ini ditemukan informasi baru, oposisi pemeran lainhyang tak terduga-duga, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Komplikasi ini berfungsi&amp;nbsp; untuk mempersempit kemungkinan-kemungkinan gerakan dan untuk menciutkan suspence.&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Klimaks&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Sumber utama penggawatan atau komplikasi adalah penemuan (discovery). Dalam bab ini muncul suatu masalah yang sebelumnya tidak diketahui. Penemuan ini akan memberikan jawaban terhadap ‘major dramatic question’ atau dengan istilah lain disebut ‘plot sacra’ atau klimak. Disinilah krisis nilai dipertaruhkan.&lt;br /&gt;Klimak menggambarkan bentrikan atau konflik puncak, antara tokoh cerita dan persialan yang dihadapi yang merupakan puncak persoalan dengan konflik yang ada.&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Peleraian/anti klimaks&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Pada bab ini menguraikan pemecahan persoalan (di sini cerita mulai menurun) dan memperlihatkan dengan jelas pemecahan masalah.&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Penyelesaian/konklusi&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Simpulan dari akhir cerita. Biasanya diakhir cerita penulis naskah memberikan jawaban, apa yang akan dan harus terjadi setelah semua fakta dibeberkan. Di dalam jawabannya harus terpenuhi pengertian-pengertian lengkap dan kepuasan.&lt;br /&gt;Naskah drama bentuk dan usunannya berbeda dengan naskah cerita pendek atau novel. Naskah cerita pendek atau novel berisi cerita lengkap dan langsung tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi. Sebaliknya, naskah drama tidak mengisahkan cerita secara langsung. Penentuan ceritanya diganti dengan dialog para tokoh. Jadi, naskah drama itu mengutamakan ucapan-ucapan atau pembicaraan para tokoh. Dari pemhicaraan para tokoh itu penonton dapat menangkap dan mengerti seluruh ceritanya.&lt;br /&gt;Pemain drama dibagi dalam babak demi babak. Setiap babak mengisahkan peristiwa tertentu. Peristiwa itu terjadi di tempat tertentu, dalam waktu tertentu, dan suasana tertentu pula. Misalnya drama itu terdiri dan tiga babak, berarti babak I, babak II dan babak III. Tiap-tiap babak menggambarkan peristiwa yang berbeda. Begitu pula tempat, waktu dan suasananyapun berbeda. Dengan pembagian seperti itu, penonton memperoleh gambaran yang jelas bahwa setiap peristiwa berlangsung di tempau. waktu, dan suasana yang berbeda.&lt;br /&gt;Untuk memudahkan para pemain drama, naska drama ditulis selengkap-lengkapnya, bukan saja berisi percakapan, melainkan juga disertai keterangan atau petunjuk. Petunjuk itu misalnya gerakan-gerakan yang dilakukan pemain, tempat terjadinya peristiwa, benda-benda peralatan yang diperlukan setia bahak, dan keadaan panggung setiap babak. Juga tentang bagaimana dialog diucapkan, apakah dengan suara lantang, lemah atau dengan berteriak. Pendek kata, naskah drama itu benar-benar sudah lengkap dan sudah siap dimainkan dipanggung.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menganalisis Naskah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi sebuah naskah, mula-mula secara kasarnya kita mencoba mencari apa yang disebut ‘dramatic material’, yaitu segala sesuatu yang ada di dalammnya atau disarankan naskah, seperti; ucapan-ucapan, watak, tata pentas, ide-ide dan lain-lain. Bahan-bahan dramatik ini lalau kita golongkan pada apa yang disebut ‘nilai-nilai’ untuk para penonton.&lt;br /&gt;Menurut Henning Nilms (Max Arifin, 1980), nilai-nilai itu dibagi dalam tiga macam&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Nilai-nilai intelektual; yang      mengemukankan ide-ide baru atau mempertahankan yang lama dalam bentuk yang      lebih impressif. Ide yang ada di belakang drama adalah nilai-nilai      falsafi, umpamanya suatu pandangan moral; bahwa setiap kejahatan mesti ada      balasannya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Nilai-nilai emosional.      Nilai-nilai ini bisa menggerakan penonton untuk bisa tertawa atau      menangis. Nilai-nilai ini tidak membutuhkan pemahaman tapi dirasakan dan      mungkin memerlukan expresi yang mendetail dan halus.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Dalam banyak drama penonton ikut terlibat dalam imajinasinya dengan pengalaman-pengalaman para pemain/pemeran. Keterlibatan ini menghasilkan emosi-emosi dan ini adalah salah satu daripada daya tarik utama dari teater.&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Nilai abstrak. Nilai ini mememberikan      rasa senang memalui keindahan, kehalusan atau hal-hal estetik lainnya.      Pentas yang indah yang menarik pandangan, sajak, suara yang halus yang      menarik pendengaran, dan lain-lain.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Menganalisis lakon adalah salah satu tugas utama sutradara. Lakon yang telah ditentukan harus segera dipelajari sehingga gambaran 100% lengkap cerita didapatkan. Dengan analisis yang baik, sutradara akan lebih mudah menerjemahkan kehendak pengarang dalam pertunjukan.&lt;br /&gt;Analisis dasar adalah telaah unsur-unsur pokok yang membentuk lakon. Dalam proses analisis ini, sutradara memepelajari seluruh isi lakon dan menangkap gambaran lengkap lakon seperti apa yang tertulis. Jadi, dalam tahap ini sutradara hanya membaca kehendak pengarang melalui lakonnya. Unsur-unsur pokok yang harus dianalisis oleh sutradara adalah senagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Pesan Lakon&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;sutradara wajib menemukan pesan utama dari lakon yang telah ditentukan. Apa yang hendak disampaikan oleh pengarang melalui naskah lakon disebut pesan. Romeo and Juliet karya Shakespeare mengandung pesan bahwa seseorang yang telah menemukan cinta sejati tidak takut terhadap risiko apapun termasuk mati.&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Konflik dan      Penyelesaian&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Penting mengetahui dasar persoalan (konflik) dalam sebuah lakon karena hal tersebut akan membawa laku aksi para tokohnya. Ini akan memberi sudut pandang bagi sutradara dalam melihat, menilai, dan memahami konflik lakon.&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Karakter Tokoh&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Analisis karakter tokoh sangat penting dan harus dilakukan secara mendetil agar sutradara mendapatkan gambaran watak sejelas-jelasnya. Analisis karakter ini harus dilakukan dengan teliti dan hati-hati sehingga setiap perubahan karakter yang dialami oleh tokoh tidak lepas dari pengamatan sutradara.&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Latar Cerita&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Gambaran tempat kejadian, peristiwa, dan waktu kejadian harus diungkapkan dengan jelas karena hal ini berkaitan dengan tata artistik.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menjadi Sutradara&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada mulanya pementasan teater tidak mengenal sutradara. Pementasan teater muncul dari sekumpulan pemain yang memiliki gagasan untuk mementaskan sebuah cerita. Kemudian mereka berlatih dan memainkkannya di hadapan penonton. Sejalan dengan kebutuhan akan pementasan teater yang semakin meningkat, maka para aktor memerlukan peremajaan pemain.&lt;br /&gt;Para aktor yang telah memiliki banyak pengalaman mengajarkan pengetahuannya kepada aktor muda. Proses mengajar dijadikan tonggak awal lahirnya “sutradara”. Dalam terminologi Yunani sutradara (director) disebut didaskalos yang berarti guru dan pada abad pertengahan di seluruh Eropa istilah yang digunakan untuk seorang sutradara dapat diartikan sebagai master.&lt;br /&gt;Sutradara mempunyai tugas sentral yang berat dalam sebuah pementasan tidak hanya akting para pemain yang diurusnya, tetapi juga kebutuhan yang berhubungan dengan artistik dan teknis. Musik yang bagaimana yang dibutuhkan, pentas seperti apa yang harus diatur, penyinaran, tata rias, kostum, dan sebagainya, semuanya diatur atas persetujuan sutradara. Oleh karena itu sutradara harus menguasai semuanya.&lt;br /&gt;Penyutradaraan berhubungan dengan kerja sejak perencanaan pementasan, sampai pementasan berakhir. Dalam drama tradisional dan wayang sutradara “dalang”. Tugas sutradara drama modern melatih, mengkoordinasikan aktor/aktris, juga memimpin urusan unsur pentas seperti penata lampu, penata pentas, penata musik, penata rias, penata pakaian, dekorator, dan petugas lainnya.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sejarah Timbulnya Sutradara&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam drama tradisional, kurang lebih dua abad yang lalu, belum ada sutradara. Dalam drama tradisional di Indonesia, masing-masing aktor bermain improvisasi. Yang ada hanyalah manajer dan produser. Dalam perkembangan kedudukan sutradara, beberapa kejadian penting dapat dicatat, yaitu sebagai berikut.&lt;br /&gt;a. Pada saat Saxe Meiningen mendirikan rombongan teater di Berlin, pada tahun 1874-1890. Saat itu dipentaskan 2591 drama di wilayah Jerman. Kemudian mengadakan tour ke seluruh Eropa. Dengan peristiwa itu, dirasa kebutuhan akan adanya sutradara yang mengkoordinasikan pementasan-pementasan.&lt;br /&gt;b. Gurdon Craig (1872), putra Ellen Terry mempelopori penyutradaraan sehingga namanya sangat terkenal. Sampai kini, nam Craig dipuja sebagai sutradara genius. Dia dinyatakan sebagai sutradara yang memaksakan gagasannya kepada aktor/aktris. Melalui dirinya diperkenalkan seniman teater baru yang disebut sutradara.&lt;br /&gt;c. Constantin Stanilavsky (1863-1938) merupakan sutradara Rusia yang terbesar. Ia mendirikan “Moscow Art Theater”. Dengan penyutradaraannya, dihilangkan sistem bintang, dan ia merupakan pelopor penyutradaraan yang mementingkan sukma.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tugas Sutradara&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sebelum membahas lebih jauh tentang tugas-tugasnya, maka sutradara harus mengerti hal-hal yang berhubungan dengan pementasannya, misalnya:&lt;br /&gt;1. Arti pementasan dan mengapa kontruksi pementassan harus disusun rapi.&lt;br /&gt;2. Mengerti sikap karakter dan juga peranannya di dalam pementasan.&lt;br /&gt;3. Mengerti bagaimana scene yang dibutuhkan, kostum, dan peralatan lampu yang sesuai.&lt;br /&gt;4. Mengerti latar belakang pengarang naskah, periode pementasan, gambaran lingkungan&lt;br /&gt;danjuga gambarab audience yang akan menyaksikan.&lt;br /&gt;5. Mampu menyadar kata dan ungkapan yang usang, sehingga dipahami penonton.&lt;br /&gt;6. Mampu menghadirkan lakon sesuai dengan waktu dan tempat pementasan, sehingga&lt;br /&gt;suasana hakiki dapat dihayati.&lt;br /&gt;7. Mampu menghadirkan image visual atau image kunci dengan dekorasi yang&lt;br /&gt;menggambarkan suasana yang sesuai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Fran K. Whitting ada tiga macam tugas utama dari seorang sutradara, yaitu: merencanakan produksi pementasan, memimpin latihan aktor, dan aktris, dan mengorganisasi produksi. Dalam hal in, sutradara bertindak sebagai artis, guru dan eksekutif.&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Merencanakan Produksi&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Sutradara haruslah mampu menangkap pesan dan tema naskah tersebut, nada dan suasana drama secara menyeluruh juga harus dipahami. Untuk menjadi seorang sutradara, seorang harus mempersiapkan diri melalui latihan yang cukup serius, memahami akting dan memahami cara melatih akting dan memahami seluk beluk perwatakan sebagai dimensi dalam diri seorang peran.&lt;br /&gt;Untuk memimpin pementasan drama besar, sebaiknya seorang calon sutradara mulai dengan berlatih memimpin drama yang sederhana, dengan latar belakang waktu masa kini yang tidak membutuhkan berbagai persiapan rumit.&lt;br /&gt;Mempersiapkan calon aktor secara seksama dapat dilakukan sebelum casting ditentukan, sutradara harus mempertimbangkan secara masak dan dewasa, dari berbagai segi tentang penunjukkan aktor atau aktris. Di samping menyesuaikan dengan karakternya, baik secara psikologis, sosiologis maupun fisiologis, maka faktor kecerdasan, kemudian latihan dan faktor kepribadian calon pemimpin harus mendapat perhatian.&lt;br /&gt;Untuk suatu naskah tertentu, sutradara dengan kondisi pemain yang dipilih, dapat memperkirakan beberapa kali latihan yang dibutuhkan. Dengan demikian,dapat dibuat time-schedule yang terperinci. Jika waktu pementasan sudah ditentukan, maka time-schedule ini dapat lebih bersifat pasti.&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Memimpin Latihan&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Periode latihan dapat dibagi menjadi empat periode besar, yaitu:&lt;br /&gt;1. Latihan pembacaan teks drama (reading)&lt;br /&gt;2. Latihan blocking (pengelompokkan)&lt;br /&gt;3. latihan action atau latihan kerja teater.&lt;br /&gt;4. Pengulangan dan pelancaran terhadap semua yang telah dilatih&lt;br /&gt;Latihan untuk aktor ini, berhubungan dengan pembinaan akting, blocking, crossing pemain, penyesuaian dengan teknis pentas, pemyesuaian dengan teknis pentas, dengan musik, sound system. Pembinaan aktor juga menyangkut teknik muncul, teknik menekankan isi. Teknik progresi dan teknik membina puncak.&lt;br /&gt;WS&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;Rendra mengemukakan, ada sebelas langkah dalam menciptakan peran, yaitu&lt;br /&gt;1. Mengumpulkan tindakan-tindakan pokok yang harus dilakukan oleh sang peran dalam drama itu.&lt;br /&gt;2. Mengumpulkan sifat-sifat watak sang peran, kemudian dicoba dihubungkan dengan tindakan-tindakan pokok yang harus dikerjakannya, kemudian ditinjau, manakah yang harus ditonjolkan sebagai alasan untuk tindakan tersebut.&lt;br /&gt;3. Mencari dalam naskah, pada bagian mana sifat-sifat pemeran itu harus ditonjolkan.&lt;br /&gt;4. Mencari dalam naskah, ucapan-ucapan yang hanya memiliki makna tersirat untuk diberi tekanan lebih jelas, hingga maknanya lebih tersembul keluar.&lt;br /&gt;5. Menciptakan gerakan-gerakan air muka, sikap, dan langkah yang dapat mengekspresikan watak tersebut di atas.&lt;br /&gt;6. Menciptakan timing atau aturan ketepatan waktu yang sempurna, agar gerakan-gerakan dan air muka sesuai dengan ucapan yang dinyatakan.&lt;br /&gt;7. Memperhitungkan teknik, yaitu penonjolan terhadap ucapan serta penekanannya, pada watak-watak sanga peran itu&lt;br /&gt;8. Merancang garis permainan yang sedemikian rupa, sehingga gambaran tiap perincian watak-watak itu, diasjikan dalam tangga menuju puncak, dan tindakan yang terkuat dihubungkan dengan watak yang terkuat pula.&lt;br /&gt;9. Mengusahakanagar perencanaan tersebut tidak berbenturan dengan rencana (konsep) penyutradaraan.&lt;br /&gt;10. Menetapkan bussiness dan blocking yang sudah ditetapkan bagi sang peran dan diusahakan dihapaagar menjadi kebiasaan oleh sang peran.&lt;br /&gt;11. Menghayati dan menghidupkan peran dengan imajnasi dengan jalan pemusatan perhatian pada pikiran dan perasaan peran yang dibawakan.&lt;br /&gt;@@@&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;*Disampaikan pada workshop teater guru SD/MI Se-Jawa Timur, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur,&amp;nbsp; Surabaya, 24-26 Februari 2011.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bahan Bacaan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;A. Kasim Ahmad, Pendidikan Seni Teater (Buku Guru Sekolah Menengah      Atas), Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1990&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bakdi      Sumanto, Majalah Dinding (kumpulan drama), Gama Media, Bandung, 2006&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Max      Arifin, Teater Sebuah Perkenalan Dasar, Nusa Indah, 1980&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rendra,      Seni Drama untuk Remaja, Burung Merak Press, Jakarta, 2007&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Suyatna      Anirun, Menjadi Sutradara, STSI Press Bandung, Bandung, 2002&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Suyatna      Anirun, Menjadi Aktor, STB-Taman Budaya Jawa Barat, Bandung, 1998&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://minalove.com/artikel/" rel="nofollow" target="_blank"&gt;http://minalove.com/artikel/&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.jendelasastra.com/artikel/" rel="nofollow" target="_blank"&gt;http://www.jendelasastra.com/artikel/&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Biodata Penulis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Rakhmat Giryadi, lahir di Blitar, 10 April 1969. Lulusan Sarjana Pendidikan Seni Rupa IKIP Surabaya 1994. Selain bergiat di teater dan menjadi penulis naskah/sutradara di Teater Institut Universitas Negeri Surabaya (Unesa),&amp;nbsp; ia juga menulis cerpen, esai, dan puisi.&lt;br /&gt;Karya-karyanya selain dibacakan diberbagai kesempatan, juga dipublikasikan di media massa seperti, &lt;em&gt;Horison&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Surabaya Post, Kompas (Jawa Timur), Jawa Pos, Radar Surabaya, Surya, Suara Merdeka, Suara Karya, Sinar Harapan, Media Indonesia, Suara Indonesia, Bende, Aksara, Majalah Budaya Gong,&lt;/em&gt; &lt;em&gt;Majalah Budaya Kidung&lt;/em&gt;, dll.&lt;br /&gt;Kumpulan cerpennya : Mimpi Jakarta (2006) Dongeng Negeri Lumut (2011) Kumpulan naskah dramanya : Orde Mimpi (2009), Dewa Mabuk (2010)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2426781968670182990-7902013986086221344?l=narkus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://narkus.blogspot.com/feeds/7902013986086221344/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://narkus.blogspot.com/2011/03/drama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2426781968670182990/posts/default/7902013986086221344'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2426781968670182990/posts/default/7902013986086221344'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://narkus.blogspot.com/2011/03/drama.html' title='DRAMA'/><author><name>NARKUS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11591169986242294786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-wL6uuYcQCv0/TXdzXIbrooI/AAAAAAAAAA8/qoP7vtnrfsI/s220/Foto084.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2426781968670182990.post-5222956921754922888</id><published>2011-03-08T11:53:00.000-08:00</published><updated>2011-03-08T11:53:44.695-08:00</updated><title type='text'>PUISI</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;strong&gt;PERTEMUAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu&lt;br /&gt;Bersama nyanyi &amp;nbsp;burung&lt;br /&gt;Tlah kubaca garis-garis pesonamu&lt;br /&gt;Akan aku rangkum dalam lembar kehidupanku&lt;br /&gt;Dan ketika larut tiba&lt;br /&gt;Akan aku pahat sebuah nama&lt;br /&gt;Dan akan selalu kukenang&lt;br /&gt;Namun, jiwa ini seolah buta&lt;br /&gt;Untuk menentukan huruf demi huruf&lt;br /&gt;Agar menjadi sebuah nama &lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 210406&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Namamu Misteri Bagiku &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kala malam terlalu akrab dengan sunyi&lt;br /&gt;Kala pekat menawarkan kesendirian&lt;br /&gt;Kala semua terlalu akrab dengan mimpinya&lt;br /&gt;Aku goreskan lagi penaku&lt;br /&gt;Pada lembaran-lembaran kegelisahanku&lt;br /&gt;Di sini,&lt;br /&gt;Mulai kueja lagi huruf demi huruf&lt;br /&gt;Untuk menjadi sebuah nama&lt;br /&gt;Sungguh,&lt;br /&gt;Namamu misteri bagiku&lt;br /&gt;Andai saja kau sudi&lt;br /&gt;Membuka misteri itu&lt;br /&gt;Akan kutulis pada lembar kehidupanku&lt;br /&gt;Dan akan selalu kusimpan dalam jiwaku&lt;br /&gt;Sungguh,&lt;br /&gt;Andai saja kau rela memberikan jawaban&lt;br /&gt;Akan aku tulis dengan darahku&lt;br /&gt;Dan akan menyatu dengan nafasku&lt;br /&gt;Sungguh,&lt;br /&gt;Namamu adalah misteri bagiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sidoarjo, 9-9-2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bila Esok &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bila esok masih kautemukan&lt;br /&gt;Goresan-goresan kata yang lugu&lt;br /&gt;Janganlah risau&lt;br /&gt;Sebab aku hanya ingin&lt;br /&gt;Kau tahu perasaanku saat ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila esok masih kautemukan&lt;br /&gt;Kumpulan kata-kata&lt;br /&gt;Dalam lembaran yang kumal&lt;br /&gt;Janganlah kau marah&lt;br /&gt;Sebab aku hanya ingin tahu&lt;br /&gt;Sebuah nama yang kaumiliki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila esok masih kautemukan&lt;br /&gt;Bait-bait syair&lt;br /&gt;Yang mungkin tidak pantas untuk disebut syair&lt;br /&gt;Janganlah kau muak&lt;br /&gt;Sebab mungkin aku belum akan&lt;br /&gt;Pernah berhenti menulis&lt;br /&gt;Sebelum aku tahu&lt;br /&gt;Siapa namamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidoarjo, 9-9-2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;API DALAM JIWAKU&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Api dalam jiwaku sudah terlalu berkobar &lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sulit untuk kupadamkan lagi&lt;br /&gt;Mungkin&lt;br /&gt;Aku adalah orang yang paling tolol&lt;br /&gt;Hingga tak menyadari&lt;br /&gt;Pesonamu telah membakar jiwaku&lt;br /&gt;Setiap embun yang menetes&lt;br /&gt;Seolah menyimpan senyummu&lt;br /&gt;Yang mampu menyeka kegersangan hatiku&lt;br /&gt;Dan setiap kupandang sekuntum bunga&lt;br /&gt;Wajahmu menjelma di situ&lt;br /&gt;Tersenyum manis&lt;br /&gt;Memberikan sebuah harapan&lt;br /&gt;Untuk bersama menyalakan api di jiwaku .&lt;br /&gt;Api dalam jiwaku sudah terlalu berkobar&lt;br /&gt;Dan mungkin tidak akan pernah padam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 210406&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KAU DALAM JIWAKU &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin, hari ini, dan esok sama saja&lt;br /&gt;Seraut wajah yang mempesona&lt;br /&gt;Melayang di otakku&lt;br /&gt;Membius jiwaku&lt;br /&gt;Hingga tak kusadari&lt;br /&gt;Kau sudah terlalu jauh&lt;br /&gt;Menyusup ke dalam jantungku&lt;br /&gt;Mengalir bersama darah di tubuhku&lt;br /&gt;Kau telah menyandrai jiwaku&lt;br /&gt;Hingga setiap nafas yang kuhembuskan&lt;br /&gt;adalah bagian dalam hidupmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemarin, hari ini, dan esok sama saja&lt;br /&gt;diriku tetap mengharapkan&lt;br /&gt;kau hadir di depanku&lt;br /&gt;tersenyum membawakan segelas embun untukku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 210406&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pesonamu &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bersama rintik hujan yang tiada henti&lt;br /&gt;Bayangan wajahmu mulai kugambarkan&lt;br /&gt;Dalam kanvas-kanvas penantianku&lt;br /&gt;Dan akan kubingkai pada kesetiaan cintaku&lt;br /&gt;Di situ,&lt;br /&gt;Mulai kuabadikan&lt;br /&gt;Senyummu yang mempesona&lt;br /&gt;Begitu hangat menusuk jiwaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sidoarjo, 9-9-2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;LEBIH DARI ENAM DASAWARSA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Telah lebih dari enam dasawarsa&lt;br /&gt;Derap langkahmu&lt;br /&gt;Dan pekik merdekamu&lt;br /&gt;Masih terngiang di telingaku&lt;br /&gt;Semangat yang pantang menyerah&lt;br /&gt;Tlah kautanamkan ke jiwaku&lt;br /&gt;Untuk terus menjaga ibu pertiwi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah lebih dari enam dasawarsa&lt;br /&gt;Engkau membebaskan ibu pertiwi&lt;br /&gt;Dari jerat kolonialisme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kini,&lt;br /&gt;Andai engkau menyaksikan&lt;br /&gt;Ibu pertiwi yang tengah sakit&lt;br /&gt;Engkau akan turut meneteskan air mata&lt;br /&gt;Ibu pertiwi mungkin tengah terkena komplikasi&lt;br /&gt;Kadang ia batuk-batuk&lt;br /&gt;Dan menyemburkan asap panas&lt;br /&gt;Kadang ia muntah-muntah&lt;br /&gt;Dan tak bisa dihentikan&lt;br /&gt;Hingga menenggelamkan kami&lt;br /&gt;Kadang rambutnya terbakar&lt;br /&gt;Tanpa tahu siapa yang membakar&lt;br /&gt;Atau mungkin suhu badannya terlalu tinggi&lt;br /&gt;Hingga membakar rambutnya sendiri&lt;br /&gt;Kini, ibu pertiwi tengah rapuh&lt;br /&gt;Mungkin ia sudah terlalu tua&lt;br /&gt;Hingga rentan penyakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh,&lt;br /&gt;Kami sangat malu terhadapmu&lt;br /&gt;Andai ada obat&lt;br /&gt;Yang bisa membuat ibu pertiwi sembuh&lt;br /&gt;Dan bisa membuatnya muda kembali&lt;br /&gt;Akan kami cari dimana pun adanya&lt;br /&gt;Kami tidak akan pernah peduli&lt;br /&gt;Walau betapa besar rintangannya&lt;br /&gt;Walau harus mengorbankan nyawa&lt;br /&gt;Demi ibu pertiwi&lt;br /&gt;Demi keutuhan negeri&lt;br /&gt;Karna semangatmu tlah menyatu dalam jiwa kami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidoarjo, 9-9-2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DIRIMU ADALAH KEMBANG &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dirimu adalah kembang &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Yang siap menampakkan bunga-bunganya&lt;br /&gt;Setiap yang menatap&lt;br /&gt;Kan selalu mengagumi keindahannya&lt;br /&gt;Dan semerbak harumnya&lt;br /&gt;Mampu membius setiap orang yang menghirupnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirimu adalah kembang&lt;br /&gt;Yang harus terjaga oleh pagar kedewasaan&lt;br /&gt;Rawat dan jagalah!&lt;br /&gt;Jangan sampai layu&lt;br /&gt;Oleh kumbang-kumbang bertopeng&lt;br /&gt;Tetaplah menjadi eidelweis&lt;br /&gt;Yang selalu mekar&lt;br /&gt;Dalam keadaan bagaimanapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24-06-06&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SANG IBU DAN ORANG BERDASI&amp;nbsp; &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak yang hidup di pinggir kota&lt;br /&gt;Di bawah jalan tol antarkota&lt;br /&gt;Masih tetap menampakkan senyum cerah&lt;br /&gt;Dan seakan tanpa beban&lt;br /&gt;Mereka terpanah melihat kemegahan kota&lt;br /&gt;Mereka tak pernah sadar&lt;br /&gt;Bahwa ibunya tengah merana&lt;br /&gt;Seakan tak mampu&lt;br /&gt;Menahan bising mesin-mesin di atas jalan tol&lt;br /&gt;Ia terus meneteskan air mata&lt;br /&gt;Banjir pun meluap di mana-mana&lt;br /&gt;Sang anak tetap &lt;em&gt;nggak&lt;/em&gt; mau peduli&lt;br /&gt;Mereka anggap itu hal yang biasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saat ini,&lt;br /&gt;Ketika datang orang berdasi untuk meminang ibunya&lt;br /&gt;Sang anak bersuka ria&lt;br /&gt;Mereka berjingkrak-jingkrak&lt;br /&gt;Bagaikan anak yang dibelikan mainan oleh bapaknya&lt;br /&gt;Mereka tidak tahu bahwa ibunya semakin merana&lt;br /&gt;Dan penyakitnya semakin parah&lt;br /&gt;Yang mereka tahu hanya uang yang berlimpah&lt;br /&gt;Mereka menyerahkan sepenuhnya ibunya&lt;br /&gt;Pada orang yang berdasi&lt;br /&gt;Orang yang berdasi itu &lt;em&gt;mengeksploitasi&lt;/em&gt; sang ibu&lt;br /&gt;Penyakit sang ibu semakin kronis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, suatu hari&lt;br /&gt;Sang ibu muntah-muntah&lt;br /&gt;Mula-mula semuanya tenang-tenang saja&lt;br /&gt;Dianggapnya itu hal yang biasa&lt;br /&gt;Wajar baru menikah&lt;br /&gt;Namun, setiap hari muntahnya tak kunjung berakhir&lt;br /&gt;Frekuensinya semakin meningkat&lt;br /&gt;Muntahannya semakin dasyat&lt;br /&gt;Semua panik&lt;br /&gt;Orang yang berdasi bingung&lt;br /&gt;Sang ibu muntahnya semakin menjadi&lt;br /&gt;Muntahan yang berhawa panas itu pun&lt;br /&gt;Tak pernah berhenti keluar dari perutnya&lt;br /&gt;Seakan tak pernah habis&lt;br /&gt;Hingga menenggelamkan rumahnya&lt;br /&gt;Anak-anaknya tambah bingung&lt;br /&gt;Mereka mau bertahan di situ tapi tidak kuat&lt;br /&gt;Di samping takut tenggelam mereka juga tidak tahan&lt;br /&gt;Dengan bau gas yang keluar bersama muntahan sang ibu&lt;br /&gt;Mau meninggalkan ibunya&lt;br /&gt;Mereka takut dicap tidak setia oleh masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu orang berdasi&lt;br /&gt;Sudah lebih dulu mengamankan diri&lt;br /&gt;Seolah ingin lepas dari masalah ini&lt;br /&gt;Dan biar disangka tetap bertanggung jawab&lt;br /&gt;Ia pura-pura mengajak anak-anak itu pindah&lt;br /&gt;Ia mengiming-imingi anak-anak itu dengan segebok uang&lt;br /&gt;Bagaikan anak kecil dikasih permen&lt;br /&gt;Anak-anak itu pun &lt;em&gt;nurut&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dan membiarkan ibunya muntah-muntah sendiri&lt;br /&gt;Sampai kini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidoarjo, 13-09-2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;AKULAH MATAHARI DAN UDARA &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada mentari yang sinarnya tersapu angin&lt;br /&gt;Kehadirannya membawa kehangatan&lt;br /&gt;Menawarkan kehidupan pada setiap mahluk&lt;br /&gt;Dan angin yang berhembus&lt;br /&gt;Tersenyum menawarkan kesejukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku adalah matahari dan udara&lt;br /&gt;Yang mencoba&lt;br /&gt;Memberikan semangat pada kembang&lt;br /&gt;Untuk memekarkan dirinya&lt;br /&gt;Sidoarjo, 24-06-06&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BAYANGMU SELALU ADA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DI HATIKU &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini&lt;br /&gt;Entah karena apa&lt;br /&gt;Aku mulai menggambar dirimu&lt;br /&gt;Melukis wajahmu&lt;br /&gt;Dalam bayangan suram perjalananku&lt;br /&gt;Dan ketika matahari mulai menyembuyikan wajahnya&lt;br /&gt;Kegelisahanku semakin tak terbendung&lt;br /&gt;Bayanganmu mulai menari-nari di depanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini&lt;br /&gt;Entah karena apa&lt;br /&gt;Setiap kulihat&amp;nbsp; kau memberikan senyummu pada yang lain&lt;br /&gt;Hatiku terasa ditusuk dengan beribu jarum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini&lt;br /&gt;Entah karena apa&lt;br /&gt;Aku ingin menyimpan&lt;br /&gt;Bayangan wajahmu&lt;br /&gt;Dan senyummu akan selalu&lt;br /&gt;Untukku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 100306&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;K&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;UCARI SEKUNTUM BUNGA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; YANG PERNAH TUMBUH DI HATIKU &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila esok matahari masih sudi menampakkan diri&lt;br /&gt;Akan aku mulai kembali perjalanan ini&lt;br /&gt;Mencari dan terus mencari&lt;br /&gt;Sekuntum bunga yang pernah mekar di hatiku&lt;br /&gt;Aku tak tahu&lt;br /&gt;Kenapa bunga yang telah mekar di hatiku&lt;br /&gt;Harus tercabut dan berganti dengan bunga yang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai aku dapat mengulang perjalanan ini&lt;br /&gt;Tak kan aku biarkan&lt;br /&gt;Bunga itu hilang dalam hatiku&lt;br /&gt;Akan kurawat dan kusiram ia&lt;br /&gt;Dengan embun kasih sayang&lt;br /&gt;Agar wanginya selalu tercium&lt;br /&gt;Dan mengiringi setiap lanngkahku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai bunga itu&lt;br /&gt;Mau kembali tumbuh di hatiku&lt;br /&gt;Akan kurangkai sebagai bunga terindah&lt;br /&gt;Dan akan kumasukkan dalam bingkai kaca cintaku&lt;br /&gt;Kuabadikan dalam jantungku&lt;br /&gt;Dan harumnya,&lt;br /&gt;Akan selalu menebar bersama nafasku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila esok matahari masih sudi menemaniku&lt;br /&gt;Akan aku cari bunga yang pernah ada di hatiku&lt;br /&gt;Untuk kujadikan hiasan dalam setiap langkahku&lt;br /&gt;Dan selalu menyatu dalam nafasku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;strong&gt;100306&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;API DALAM JIWAMU &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mengalir ..................................&lt;br /&gt;Menyeruai ......................................&lt;br /&gt;Menghempas tembok-tembok peradaban&lt;br /&gt;Aliran jiwamu yang congkak&lt;br /&gt;Merayap, menyusup ke otakku tanpa suara&lt;br /&gt;Kuraih kau&lt;br /&gt;Ngilu tanganku, kakiku lumpuh&lt;br /&gt;Mataku pedih&lt;br /&gt;Jiwamu terlalu kering bagiku&lt;br /&gt;Kau panas dan keras&lt;br /&gt;Menguras daya&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 040595&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Layar Kehidupan &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layar kehidupan yang ada di depanmu&lt;br /&gt;Bukanlah layer keabadian&lt;br /&gt;Namun hanya sekadar tawaran&lt;br /&gt;Bagi dirimu&lt;br /&gt;Untuk menentukan langkah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Surabaya, 220997&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Luka &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Karena kata tak bermata&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Surabaya,&amp;nbsp; 220997&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perjalanan &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Jalan lurus&lt;br /&gt;Tiang listrik di dekatnya&lt;br /&gt;Penuh tanda tanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Surabaya&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;,&amp;nbsp; 220997&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tuhan Telah Menegurmu &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat semayup suara adzan&lt;br /&gt;Tuhan telah memanggilmu&lt;br /&gt;Untuk meninggalkan segala kepenatan&lt;br /&gt;Memalingkan muka dari keangkuhan dunia&lt;br /&gt;Bersujud dan menanggalkan beban di pundak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat semayup suara adzan&lt;br /&gt;Tuhan telah memanggilmu&lt;br /&gt;Untuk membersihkan jiwa&lt;br /&gt;Menghapuskan debu-debu yang melekat di hati kita&lt;br /&gt;Menghadap dan menyembah keagungan-Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat semayup suara adzan&lt;br /&gt;Tuhan telah memanggilmu&lt;br /&gt;Untuk menghentikan segala permainan&lt;br /&gt;Mematikan keangkaramurkaan&lt;br /&gt;Beristirah dan berteduh di bawah kaki-Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat semayup suara adzan&lt;br /&gt;Tuhan telah memanggilmu&lt;br /&gt;Untuk&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;melupakan semua hiburan&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Memusuhi segala kemaksiatan&lt;br /&gt;Bermunajat dan berharap segala rahmat-Nya&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Lewat semayup suara adzan &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tuhan telah&amp;nbsp; memanggilmu&lt;br /&gt;Untuk menyingkapkan selimut ditubuhmu&lt;br /&gt;Meninggalkan kenikmatan mimpi-mimpimu&lt;br /&gt;Bersuci&amp;nbsp; dan memanjatkan doa mengharap ridlo-Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat semayup suara adzan&lt;br /&gt;Tuhan telah menegurmu dengan cukup sopan&lt;br /&gt;Adakah kau dengar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;RAHASIA DIRIKU &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah panas matahari itu&lt;br /&gt;Rasakan hangatnya&lt;br /&gt;Bacalah maknanya&lt;br /&gt;Di situ akan kau temukan&lt;br /&gt;Diriku yang telanjang&lt;br /&gt;Dan penuh luka pada mukaku&lt;br /&gt;Mencoba menantang kehidupan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Surabaya, 17 Juni 1997&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;OBSESI JIWA &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Embun yang berbaris di pucuk pepohonan itu&lt;br /&gt;Mengantarkan kita untuk melangkah&lt;br /&gt;Menyusuri lorong kesejatian&lt;br /&gt;Yang bermuara pada lereng kasih sayang&lt;br /&gt;Di situ&lt;br /&gt;Akan kupetik bunga eidelweis&lt;br /&gt;Kusuntingkan untukmu&lt;br /&gt;Sebagai kenangan&lt;br /&gt;Agar kita selalu dapat menyapa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu pernah bertanya padaku&lt;br /&gt;Untuk apa kita ke sini&lt;br /&gt;Saat itu aku jawab&lt;br /&gt;Bahwa hidup memiliki dua sisi&lt;br /&gt;Satu saat mungkin kita akan tergelincir&lt;br /&gt;Dan jatuh masuk jurang&lt;br /&gt;Tapi lihatlah di atas sana&lt;br /&gt;Di sana telah menanti&lt;br /&gt;Pemandangan yang mungkin belum pernah kita saksikan&lt;br /&gt;Kita akan membuat rumah di sana&lt;br /&gt;Membangun taman&lt;br /&gt;Menanaminya dengan bunga-bunga kasih sayang&lt;br /&gt;Lalu kita akan saling menghias&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bromo, 191097&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;GURATAN-GURATAN DI HATI &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemana harus kusembunyikan&lt;br /&gt;Guratan-ruratan itu cukup jelas&lt;br /&gt;Untuk sebuah rahasia&lt;br /&gt;Aku tak pernah mengerti&lt;br /&gt;Mengapa guratan itu mesti ada&lt;br /&gt;Sedangkan diri telah terlampau jauh&lt;br /&gt;Mencoba memolesnya&lt;br /&gt;Demi sebuah keindahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Surabaya,20 Des. 1996&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SAJAK BUAT BAPAK DAN EMAK &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pak,&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Aku cukup tahu, Pak&lt;br /&gt;Di sana kau bekerja keras&lt;br /&gt;Membenting tulang, Menjemur punggung&lt;br /&gt;Demi bekal anakmu&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan permata yang kauinginkan&lt;br /&gt;Sementara aku, anakmu,&lt;br /&gt;Belum tahu pasti di mana permata itu berada&lt;br /&gt;Aku belum tahu pasti&lt;br /&gt;Mampukah perahuku terus melaju mencari permata itu&lt;br /&gt;Sementara dayung yang kupegang&lt;br /&gt;Makin lama makin rapuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mak,&lt;br /&gt;Malam hari aku bangun, Mak&lt;br /&gt;Aku sembahyang, Mak&lt;br /&gt;Dan selalu memohon agar permata itu cepat aku dapati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kampung sana&lt;br /&gt;Aku harap emak juga begitu&lt;br /&gt;Selalu terjaga di malam hari&lt;br /&gt;Dan selalu memohon pada Tuhan&lt;br /&gt;Agar aku mampu mendapat permata-permata itu.&lt;br /&gt;Kelak bila semua telah kudapat&lt;br /&gt;Akan aku bawa pulang permata-permata itu&lt;br /&gt;Dan akan aku bagi-bagikan&lt;br /&gt;Untuk Emak&lt;br /&gt;Untuk Bapak&lt;br /&gt;Untuk saudara-saudaraku&lt;br /&gt;Untuk masyarakat di sekitarku&lt;br /&gt;Doakan Pak, Mak&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ketintang, 20  November 1995&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KEPADA YANG TERHORMAT ANGIN &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada yang terhormat angin&lt;br /&gt;Dengan segala kerendahanku&lt;br /&gt;Ijinkanlah aku belajar tentang kejujuran padamu&lt;br /&gt;Bukan seperti mereka&lt;br /&gt;Yang mengatakan harum pada atasan&lt;br /&gt;Dan mengatakan busuk pada jelata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada yang terhormat angin&lt;br /&gt;Ajarkanlah aku untuk dapat bersuara&lt;br /&gt;Tanpa harus menunjukkan wujudku&lt;br /&gt;Sebab aku takut&lt;br /&gt;Bila akuberbicara tentang kejujuran&lt;br /&gt;Tubuhku akan dilindas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada yang terhormat angin&lt;br /&gt;Ajarkanlah padaku tentang&lt;br /&gt;Bahasa diammu&lt;br /&gt;Yang meskipun tanpa kata&lt;br /&gt;Orang-orang&amp;nbsp; telah mengerti maksudnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Surabaya, 16 Februari 1998&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SENJA DI PINGGIR SUNGAI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DI BUMI PERKEMAHAN MONTONG&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hiruk pikuk suara permainan anak-anak&lt;br /&gt;Di pinggir sungai Montong&lt;br /&gt;Mereka begitu lepas&lt;br /&gt;Mereka begitu dekat, akrab, dan bersahabat&lt;br /&gt;Meski kadang saling serang&lt;br /&gt;Aku termenung&lt;br /&gt;Melihat keakraban mereka&lt;br /&gt;Pikiranku melayang&lt;br /&gt;Menembusi tembok-tembok kenanganku&lt;br /&gt;Aku terseret dalam kenangan 12 tahun silam&lt;br /&gt;Saat itu kita juga dekat dan akrab&lt;br /&gt;Sangat akrab bahkan&lt;br /&gt;Kita bermain air&lt;br /&gt;Saling mengguyur, berkejar-kejaran&lt;br /&gt;Dan pada akhirnya kita kecapaian&lt;br /&gt;Lalu kita duduk berdua&lt;br /&gt;Di atas sebongkah batu&lt;br /&gt;Berbicara dari hati ke hati&lt;br /&gt;Kicau burung dan gemercik air&lt;br /&gt;Tak kuasa menganggu pembicaraan kita&lt;br /&gt;Malah jadi ornament alam yang sangat mendukung&lt;br /&gt;Kita terus berbincang&lt;br /&gt;Sampai kita tidak sadar&lt;br /&gt;Teman-teman telah kemballi ke tenda masing-masing&lt;br /&gt;Kita tetap berdua&lt;br /&gt;Di atas batu&lt;br /&gt;Di tengah sungai&lt;br /&gt;Menikmati lembutnya sentuhan air&lt;br /&gt;Dan sejuknya hembusan angin&lt;br /&gt;Saat itu begitu indah&lt;br /&gt;Seindah sore ini&lt;br /&gt;Tapi sayang&lt;br /&gt;Kau tidak di sini&lt;br /&gt;Bersama-sama menyaksikan potret kita berdua&lt;br /&gt;Potret kita yang mungkin sengaja&lt;br /&gt;Diabadikan oleh alam&lt;br /&gt;Aku hanya bisa tersenyum sendiri&lt;br /&gt;Sambil diam-diam kucari kamu&lt;br /&gt;Di antara hiruk pikuk anak-anak&lt;br /&gt;Aku berharap kau ada di antara mereka&lt;br /&gt;Lalu tersenyum&lt;br /&gt;Mengajakku bermain air di sungai&lt;br /&gt;Seperti dulu&lt;br /&gt;Lama sekali aku menatapi wajah demi wajah&lt;br /&gt;Namun tak ada kau&lt;br /&gt;Dimana kamu …..&lt;br /&gt;Kenapa kau tak ada&lt;br /&gt;Saat potret kita dihamparkan di depanku&lt;br /&gt;Kenapa aku harus menyaksikan sendiri&lt;br /&gt;Kenapa kau biarkan aku menapaki kenangan ini sendirian&lt;br /&gt;Atau memang kau sudah tak peduli&lt;br /&gt;Atau&amp;nbsp; mungkin&lt;br /&gt;Kau sudah tak mengenali potret kita ini&lt;br /&gt;Senja di pinggir kali&lt;br /&gt;Di bumi perkemahan montong&lt;br /&gt;Kini cukup indah&lt;br /&gt;Sayang kau tak di sini menemaniku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;REINKARNASI &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Telah lama kau tercabut dari hatiku&lt;br /&gt;Melayang&lt;br /&gt;Meninggalkan dahan yang telah bersemi&lt;br /&gt;Dan jatuh entah dimana&lt;br /&gt;Telah lama aku menutup&lt;br /&gt;Bekas-bekas yang kau tinggalkan&lt;br /&gt;Dengan embun kesetiaan&lt;br /&gt;Yang menetes dari daun-daun kasihku&lt;br /&gt;Hingga bekasmu telah sirna&lt;br /&gt;Namun kini&lt;br /&gt;Entah kenapa&lt;br /&gt;Kau mulai tumbuh dengan warna berbeda&lt;br /&gt;Begitu samar dan tak kuhiraukan&lt;br /&gt;Meski hatiku sempat mengakui&lt;br /&gt;Kau telah lahir kembali&lt;br /&gt;Berdiri tepat di depanku&lt;br /&gt;Namun aku selalu mencoba untuk menepisnya&lt;br /&gt;Dan tanpa aku sadar&lt;br /&gt;Kau terus tumbuh&lt;br /&gt;Menancapkan akar di hatiku&lt;br /&gt;Begitu kuat……&lt;br /&gt;Perlahan tapi pasti&lt;br /&gt;Kau muncul di depanku&lt;br /&gt;Dengan warna dan aroma yang sama&lt;br /&gt;Namun berbeda dalam penampilan&lt;br /&gt;Kau lebih segar, lebih hidup, dan lebih punya harapan.&lt;br /&gt;Kau tidak pantas ada di sini&lt;br /&gt;Di hati yang telah mulai mengering dan tandus&lt;br /&gt;Biarlah kucabut dan kutanam&lt;br /&gt;Di taman kasih sayangku&lt;br /&gt;Akan aku jaga dan kusiram selalu&lt;br /&gt;Agar selalu mekar&lt;br /&gt;Dan menjadi bunga yang paling indah&lt;br /&gt;Hingga pesonamu akan mampu menghiasi hatiku&lt;br /&gt;Memberikan kedamaian dalam langkahku&lt;br /&gt;Kau akan selalu ada di hatiku&lt;br /&gt;Namun bukan untukku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;290808&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PENIPU RAKYAT&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana sang berapi memuntahkan larva,&lt;br /&gt;dan di sini hatimu hampa,&lt;br /&gt;entah bagaimana bentuknya&lt;br /&gt;karena apapun, toh kuyakin yang kau miliki tak berisi&lt;br /&gt;serupa otakmu yang bolong&lt;br /&gt;kebanyakan omong...&lt;br /&gt;kosong...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semalam hujan tak berhenti,&lt;br /&gt;entah apa kau masih kedinginan&lt;br /&gt;di balik selimut kulitmu yang berlemak&lt;br /&gt;menimbun onak...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang pasti di sini mereka sampai membeku&lt;br /&gt;diguyur hujan airmata&lt;br /&gt;yang membasahi bumi ibuku...&lt;br /&gt;kehilangan sanak famili,&lt;br /&gt;sementara kalian sibuk bersafari...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sepertinya kemarau memang sedang bersembunyi,&lt;br /&gt;entah ia memilih sungai atau lorong yang sepi?&lt;br /&gt;karena tak kutemuinya beberapa pekan ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saat gunung-gunung bergolak,&lt;br /&gt;saat darah dalam tubuh menggelegak,&lt;br /&gt;melihat tingkah mereka yang kocak,,&lt;br /&gt;justru rinai menambah duka&lt;br /&gt;yang merajalela bersama larva&lt;br /&gt;dan banjir nestapa&lt;br /&gt;yang entah kapan ujungnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku ingin mengerti mengapa begitu banyak keganjilan&lt;br /&gt;dalam runtutan adegan kesedihan,&lt;br /&gt;namun bahkan mereka yang tak merasa berdosa pun&lt;br /&gt;tak sanggup memberiku jawaban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apakah aku harus bertanya pada para&amp;nbsp; pendusta&lt;br /&gt;yang membusungkan dada&lt;br /&gt;dengan kepala bercula dua,&lt;br /&gt;yang menutup mata&lt;br /&gt;melenggang di negeri tetangga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bahkan mungkin mereka tak pernah membaca&lt;br /&gt;berita tentang datangnya sangkakala&lt;br /&gt;yang akan nyaring terdengar di akhir dunia&lt;br /&gt;apakah suaranya masih bertalu?&lt;br /&gt;bagi mereka yang kupingnya tlah dungu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adakah benar mereka akan diterbangkan serupa anai-anai..??&lt;br /&gt;sehingga kini masih dibiarkan terbuai?&lt;br /&gt;dan Tuhan tidak akan menutup mata&lt;br /&gt;bagi mereka yang buta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan biarlah kini,,,&lt;br /&gt;puaslah diri,,,&lt;br /&gt;sombongkanlah hati,,,&lt;br /&gt;busungkan dada tinggi-tinggi,,,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;toh neraka konon tercipta begitu luasnya,,&lt;br /&gt;sebagai pengganti&lt;br /&gt;jika kelak kantormu kan miring beberapa senti&lt;br /&gt;atau sampai tak muat lagi...&lt;br /&gt;datang saja,,,&lt;br /&gt;datang saja...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;HIDUPKU&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Hidupnya hidupmu tak kumengerti&lt;br /&gt;Hingga hidupku pun tak kau tahu&lt;br /&gt;Walau ku tahu kau ingin tahu hidupku&lt;br /&gt;Kau dan aku tak hidup satu kehidupan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Surabaya, 17 Juni 1997&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KEMBALIKAN PADA KEYAKINANMU&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tlah kubaca jeritan hatimu&lt;br /&gt;Lewat sinar yang terpancar di matamu&lt;br /&gt;Jeritan itu teramat pedih&lt;br /&gt;Menggores perasaanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tlah kurasakan getar kegelisahanmu&lt;br /&gt;Lewat senyum yang kau kulum di bibirmu&lt;br /&gt;Getaran hatimu begitu keras&lt;br /&gt;Hingga tak mampu terbendung&lt;br /&gt;Dan keluar bersama senyummu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tlah kupahami kusutnya anyaman akalmu&lt;br /&gt;Yang terlukis dalam gerak langkahmu&lt;br /&gt;Hingga tanpa sadar&lt;br /&gt;Hidupmu terlalu jauh menyimpang.&lt;br /&gt;Maka,&lt;br /&gt;Cobalah tengok ke belakang&lt;br /&gt;Bacalah jejakmu&lt;br /&gt;Pilih dan tentukan&lt;br /&gt;Ke arah mana kau melangkah&lt;br /&gt;Ke situlah keinginan hatimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Surabaya, 22 September 1998&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;NASKAH SEORANG MUSYAFIR &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;YANG MENGGANTUNGKAN TONGKATNYA &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kusimpan naskah ini&lt;br /&gt;Untuk adikku yang akan lahir&lt;br /&gt;Mungkin dengan naskah ini&lt;br /&gt;Ia akan mengerti dunia seorang musyafir&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 170997/08.05&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ketintang, 17 Sep 1997&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;AIR MATA BURUNG YANG TAK BERDAYA &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sayap burung yang bertengger di atas kita itu&lt;br /&gt;Telah lama patah&lt;br /&gt;Ia meneteskan air matanya&lt;br /&gt;Dan tanpa sadar kita telah tenggelam&lt;br /&gt;Dalam lautan air matanya&lt;br /&gt;Namun kita malah terbahak dan membuat luka lain&lt;br /&gt;Di tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Surabaya, 17 September 1997&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BILA AKU MENEGURMU ADIKKU&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;Bila aku menegurmu adikku&lt;br /&gt;Tak usah kau mengeluh&lt;br /&gt;Sebab itu akan membuat kau semakin dewasa&lt;br /&gt;Bila aku menegurmu adikku&lt;br /&gt;Tak perlu kau kecewa&lt;br /&gt;Sebab aku hanya ingin kau melangkah&lt;br /&gt;Bila aku menegurmu adikku&lt;br /&gt;Tak perlu kau menyesal&lt;br /&gt;Sebab pelajaran hidup bermula dari situ&lt;br /&gt;Langkahkan kakimu&lt;br /&gt;Gerakkan jemarimu&lt;br /&gt;Tak kau lihatkah mentari pagi yang bersinar cemerlang&lt;br /&gt;Memberi harapan baru bagi kita?&lt;br /&gt;Bila aku menegurmu adikku&lt;br /&gt;Bukannya aku memarahimu&lt;br /&gt;Ini sapaan sayang&lt;br /&gt;Jawablah dengan kasih&lt;br /&gt;Karena persaudaraan tidak pernah ada&lt;br /&gt;Tanpa adanya kasih sayang&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sidoarjo, 30 Februari 2000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;LAMUNAN &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi pertanyaan&lt;br /&gt;Yang berhasil menyusup dalam benakku&lt;br /&gt;Mampukah tumpukan buku-buku&lt;br /&gt;Di atas meja belajarku dan deretan buku&lt;br /&gt;Di almariku memenuhi otakku&lt;br /&gt;Atau bahkan akan menjadi&lt;br /&gt;Penyumbat jalannya pikirku?&lt;br /&gt;: Andai dapat kuubah buku itu menjadi cairan ilmu&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Akan kumasukkan lewat ubun-ubunku&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ketintang, 8 Des.1996&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SUARA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdengar lagi olehku&lt;br /&gt;Suara-suara itu jauh di bawah sadarku&lt;br /&gt;Memanggil-manggil penuh belas kasih&lt;br /&gt;Menyayat dan memilukan&lt;br /&gt;Suara yang pernah kudengar&lt;br /&gt;Ratusan tahun lalu&lt;br /&gt;Kini datang lagi dengan nada yang berbeda&lt;br /&gt;Dengan suara yang berat menahan derita&lt;br /&gt;: Ini karena tangan saudaramu&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ketintang, 8 Des 1996&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BALADA SI TUA &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam keramaian pasar&lt;br /&gt;Di bawah terik matahari&lt;br /&gt;Si tua bertubuh kurus&lt;br /&gt;Penuh borok di mukanya&lt;br /&gt;Matanya buta pula&lt;br /&gt;Berjalan dengan tonngkat tanpa alas kaki&lt;br /&gt;Ia terbawa oleh sesak arus manusia&lt;br /&gt;Ia berjalan sempoyongan tanpa tujuan&lt;br /&gt;Sesekali ia terhuyung, terdesak orang disekitarnya&lt;br /&gt;Ia berusaha menepi dan keluar&lt;br /&gt;Dari arus yang membingungkan itu&lt;br /&gt;Namun usahanya sia-sia&lt;br /&gt;Ia terjatuh, terinjak, tongkatnya hilang&lt;br /&gt;Ia meronta, orang lain acuh&lt;br /&gt;Aku mendekati dan menolongnya&lt;br /&gt;Namun gelobang manusia itu menghalangi langkahku&lt;br /&gt;Aku terus mencoba mendekatinya&lt;br /&gt;Dengan susah payah&lt;br /&gt;Aku sampai&lt;br /&gt;Tapi yang kutemui tinggal tubuh&lt;br /&gt;Yang tak bergerak&lt;br /&gt;Aku hanya bisa bergumam&lt;br /&gt;: Kasihan si tua yang lemah&lt;br /&gt;&amp;nbsp; berada di tempat yang keras seperti ini&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Surabaya, 8 Des 1996&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;JARUM-JARUM SETAN &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bermilyar jarum-jarum setan&lt;br /&gt;Menghujam perut bumi&lt;br /&gt;Terdengar suara menjerit bersautan&lt;br /&gt;Pilu&lt;br /&gt;Air mata mengalir pada sela-sela tubuhnya&lt;br /&gt;Di antara bulu-bulunya&lt;br /&gt;Darah pun tak terbendung lagi&lt;br /&gt;Mengalir&lt;br /&gt;Hingga sampai ke sungai&lt;br /&gt;Berubah malapetaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarum-jarum setan itu&lt;br /&gt;Kini pun menghujam tubuhku&lt;br /&gt;Ngilu, pedih, menyayat&lt;br /&gt;Lukaku semakin menganga&lt;br /&gt;Oh ……&lt;br /&gt;Jarum-jarum itu masuk ke tubuh&lt;br /&gt;Menyayat-nyayat jantungku&lt;br /&gt;Jantungku kini tak bergerak&lt;br /&gt;Kaku …….&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 100397&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MARRY CRISTMAST AND HAPPY NEW YEAR&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Buat Dian di Kediri&lt;br /&gt;Gerimis yang menggigil di bulan Desember&lt;br /&gt;Buknlah lambang hati yang kelam&lt;br /&gt;Namun semata&lt;br /&gt;Rahmat Tuhan yang diturunkan-Nya&lt;br /&gt;Lewat Natal&lt;br /&gt;Bersama gerimis itu pula&lt;br /&gt;Ingin aku merangkaikan kata&lt;br /&gt;Buat kau&lt;br /&gt;Dan akan selalu terkenang&lt;br /&gt;Saat salju mulai turun di akhir tahun&lt;br /&gt;: Marry cristmast and happy new year&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kediri, 1 Desember 1997&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;GERIMIS DESEMBER&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Buat Dian Kediri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini&lt;br /&gt;Mulai kugambarkan&lt;br /&gt;Bayangan wajahmu yang elok&lt;br /&gt;Tersenyum di bawah pohon natal&lt;br /&gt;Dan jiwamu yang polos&lt;br /&gt;Mulai membangun harapan&lt;br /&gt;Bersama salju kapas putih&lt;br /&gt;Saat ini,&lt;br /&gt;Bersama gerimis Desember ini&lt;br /&gt;Kuuntaikan kata-kata dalam bait syair&lt;br /&gt;: marry christmast and happy new year for you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kediri, 1 Desember 1997&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;CINTA &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Terlukis di sinar matahari&lt;br /&gt;Yang selalu berseri&lt;br /&gt;Tergantung di wajah rembulan&lt;br /&gt;Yang tak pernah muram&lt;br /&gt;Terbungkus dalam lembar kehidupan&lt;br /&gt;Yang selalu tersimpan&lt;br /&gt;Terpotret di dalam hati&lt;br /&gt;Yang tak pernah mati&lt;br /&gt;Cinta, selalu hidup walau tubuh telah hancur&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Perjalanan ke lombok 170997/08.07&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KUTABUH GAMELAN ITU &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SAAT HATIKU HAMPA &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kutabuh gamelan itu&lt;br /&gt;Bagai air laut yang tertiup angin&lt;br /&gt;Suaranya mengalun&lt;br /&gt;Mengisi kehampaan hati&lt;br /&gt;Walau sempat aku bertanya&lt;br /&gt;Gamelan itu kutabuh karena apa?&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Perjalanan ke Lombok 170997/07.58&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kumbang Pencari Keindahan &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaulah kumbang pencari keindahan&lt;br /&gt;Terbang kesana kemari&lt;br /&gt;Hinggap pada kuncup mawar&lt;br /&gt;Ia tahu mawar belum mekar&lt;br /&gt;Namun ia tetap hinggap di situ&lt;br /&gt;Menanti keindahan dari Sang mawar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, saat ia menanti&lt;br /&gt;Di sampingnya ada melati yang sedang mekar&lt;br /&gt;Ia tertarik&lt;br /&gt;Ia terbang dan hinggap pada melati yang sedang mekar&lt;br /&gt;Tak lama melati pun layu&lt;br /&gt;Mawar yang tadi masih menguncup&lt;br /&gt;Kini mulai mekar&lt;br /&gt;Kumbang tak bergairah lagi pada melati&lt;br /&gt;Ia melirik mawar&lt;br /&gt;Mawar semakin merekah&lt;br /&gt;Seolah ingin menggoda Sang kumbang&lt;br /&gt;Kumbang pun tak tahan&lt;br /&gt;Ia terbang dan hinggap&lt;br /&gt;Pada mawar yang pernah ditinggalkan&lt;br /&gt;Melati kini merana&lt;br /&gt;Kumbang tak akan pernah peduli&lt;br /&gt;Karma ia sang pencari keindahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sidoarjo, 140206&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SYAIR PENGAMPUNAN &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhanku&lt;br /&gt;Tidaklah aku pantas&lt;br /&gt;Jika aku &amp;nbsp;menjadi &amp;nbsp;penghuni surga firdaus&lt;br /&gt;Pun tidaklah kuat&lt;br /&gt;Jika aku kau campakkan&lt;br /&gt;Ke dalam neraka jahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ampunilah kesalahanku&lt;br /&gt;Berikan petunjuk-Mu&lt;br /&gt;Terangilah gelap jalanku&lt;br /&gt;Berikan cahaya suci&amp;nbsp; ruh-Mu&lt;br /&gt;Kuatkanlah iman di hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhanku&lt;br /&gt;Dosaku kian hari kian bertambah&lt;br /&gt;Laksana butiran – butiran pasir di lautan&lt;br /&gt;Laksana bukit dan pegunungan&lt;br /&gt;Sementara umurku kian berkurang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka terimalah taubatku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhanku&lt;br /&gt;Tidaklah aku kuat menghadapi maut&lt;br /&gt;Tanpa rahmat dan lindungan-Mu&lt;br /&gt;Tidaklah aku ikhlas menjalani&lt;br /&gt;Segala coba-Mu&lt;br /&gt;Bila tanpa karunia-Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhanku&lt;br /&gt;Lalaiku bagai bintang – bintang&lt;br /&gt;Di langit&lt;br /&gt;Berjuta – juta bahkan bermilyar – milyar&lt;br /&gt;Laksana gerai rambut&lt;br /&gt;Banyak pula kesombonganku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka berikan pengampunan&lt;br /&gt;Padaku&lt;br /&gt;Kuatkan jiwa lemahku&lt;br /&gt;Berikan cinta-Mu yang kudus di hatiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIDAK ADA YANG DAPAT AKU BERIKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang dapat aku berikan padamu sayang&lt;br /&gt;Hanya cerita tentang bukit&lt;br /&gt;Agar kamu memahami&lt;br /&gt;Betapa hidup penuh perjuangan&lt;br /&gt;Tidak ada yang dapat aku berikan padamu sayang&lt;br /&gt;Hanya cerita tentang laut&lt;br /&gt;Agar kamu dapat memahami&lt;br /&gt;Betapa hidup penuh kesejukan&lt;br /&gt;Tidak&amp;nbsp; ada yang dapat aku berikan padamu sayang&lt;br /&gt;Hanya cerita tentang padang rumput&lt;br /&gt;Agar kamu dapat memahami&lt;br /&gt;Betapa hidup penuh cinta kasih&lt;br /&gt;Tidak ada yang dapat aku berikan padamu sayang&lt;br /&gt;Hanya cerita tentang kehidupan&lt;br /&gt;Agar kamu dapat memahami&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Betapa kamu perlu tahu hidupku&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MALAM INI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini&lt;br /&gt;Aku datang&lt;br /&gt;Mencoba mengetuk pintumu&lt;br /&gt;Malam ini&lt;br /&gt;Ingin kubacakan sebait syair&lt;br /&gt;Yang kutulis pada lembaran hati yang gersang&lt;br /&gt;Mengharap siraman jari-jari lentikmu&lt;br /&gt;Malam ini&lt;br /&gt;Ingin aku mengajakmu berbincang&lt;br /&gt;Tentang kita dan kehidupan&lt;br /&gt;Agar kita tidak pernah lupa&lt;br /&gt;Tentang hidup yang kita impikan&lt;br /&gt;Malam ini&lt;br /&gt;Dengan segala kepolosanku&lt;br /&gt;Ingin aku katakan&lt;br /&gt;Kau dan aku harus selalu bersama&lt;br /&gt;Membangun benteng&lt;br /&gt;Membuat pagar&lt;br /&gt;Menghias rumah dengan bunga-bunga&lt;br /&gt;Menjadikan istana bagi kita&lt;br /&gt;Malam ini&lt;br /&gt;Adalah malam keinginanku untuk bertemu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BILA ESOK&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila esok&lt;br /&gt;Matahari enggan menyapamu&lt;br /&gt;Jangan kau bersedih&lt;br /&gt;Karna itu bukan berarti&lt;br /&gt;Dia tidak merindukanmu&lt;br /&gt;Bila esok&lt;br /&gt;Mendung masih menyelimuti cakrawala&lt;br /&gt;Tak usah hatimu murung&lt;br /&gt;Karna itu bukan berarti&lt;br /&gt;Dia ingin menghalangimu&lt;br /&gt;Bila esok&lt;br /&gt;Angin tak mau bicara tentangku&lt;br /&gt;Janganlah kau marah&lt;br /&gt;Sebab aku hanya ingin tahu&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sampai di mana kau mampu menahan rindu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MENCARI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencari senyummu&lt;br /&gt;Di dalam bayang yang mengikuti&lt;br /&gt;Langkahmu&lt;br /&gt;Langkahku tertati menanti angin kesegaran&lt;br /&gt;Tertiup dari kedua bibirmu&lt;br /&gt;Bibir manis, bibir mungil, bibir harum, bibir sang betinaku&lt;br /&gt;Ku raba-raba ragaku raguku diriku&amp;nbsp; dapatkan dirimu&lt;br /&gt;Musuhku sekarang karang mengeras mengangkang&lt;br /&gt;Menghalangi langkahku mendekatimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BAHASA DIAMKU&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika angin mengetuk dinding kamarku&lt;br /&gt;Ketika pekat menyelimuti langitku&lt;br /&gt;Ketika sunyi memojokkanku dalam kesendirian&lt;br /&gt;Aku lantunkan namamu&lt;br /&gt;Pada gumpalan-gumpalan kerinduan&lt;br /&gt;Aku lukiskan wajahmu&lt;br /&gt;Pada kanvas-kanvas kesepianku&lt;br /&gt;Aku tuangkan sahdu lagumu&lt;br /&gt;Pada gelas-gelas kegelisahanku&lt;br /&gt;Akan kupeluk kau dalam tidurku&lt;br /&gt;Dan andai kau tahu bahasa diamku&lt;br /&gt;Akan mengerti kau tentang isyarat angin&lt;br /&gt;Yang membawa kegundahanku&lt;br /&gt;Kegundahan anak manusia&lt;br /&gt;Dalam bahasa diam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PINTU&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, aku tak pernah memintamu mengetuk pintu&lt;br /&gt;daun telingaku terlalu peka,&lt;br /&gt;dan nuraniku bukan batu&lt;br /&gt;yang &amp;nbsp;hanya akan bergeming saja?&lt;br /&gt;Aku tak pernah memintamu masuk ke pelataran,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;lantaran,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;sudah kubuntu rapat seluruh jalan&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Namun kau masih memaksa&lt;br /&gt;&amp;nbsp;meski kau pun tlah saksikan bagaimana&lt;br /&gt;&amp;nbsp;aku menutup daun jendela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, aku tak berkenan menerima tamu,&lt;br /&gt;siapapun,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;karena hatiku sedang tiduur,&lt;br /&gt;dan suara pintu diketuk terlalu menarik&lt;br /&gt;&amp;nbsp;bagi hatiku yang tergelitik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, apa kemudian jadi salahku,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;jika kubuka segenap pintu,&lt;br /&gt;meski kutahu telah reyot dan berdebu?&lt;br /&gt;Bukankah dirimu pun tahu?&lt;br /&gt;Mengapa masih pula mengetuknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergilah, jika memang tak jadi masuk...&lt;br /&gt;Karena akan kembali kututup segala pintu dan jendela...&lt;br /&gt;Dan kelak jika kau rindu,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Loncat saja...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DALAM CINTA SEGALANYA BERUBAH RUPA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tak perlu mengingkari perang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Karena aku telah tertawan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam tenggorokan yang seakan tersumbat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahu apakah pesonanya yang memikat&lt;br /&gt;Atau akalku yang tidak lagi ada di tempat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan hatiku hari ini menjadi&amp;nbsp; derita&lt;br /&gt;Terikat dan terbelenggu karenanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasihat dari siapapun tidak akan berguna&lt;br /&gt;Karena cinta bukan semacam limpahan air yang dapat dibendung seseorang&lt;br /&gt;Karena cinta adalah penyakit yang menyusup, memperbudak dan menguasai secara paksa&lt;br /&gt;Dengan begitu cinta adalah bagian dari kegilaan&lt;br /&gt;Karena dia mampu menutupi akal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta hidup,&amp;nbsp; berjiwa , bagai obor&amp;nbsp; layaknya&lt;br /&gt;Demi cinta yang melahap , menjilat – jilat&amp;nbsp; darah ini&lt;br /&gt;Darah di piring&amp;nbsp; anjing – anjing cinta&lt;br /&gt;Karena dalam cinta segalanya berubah rupa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun cinta bukan karena keindahan yang tampak di mata&lt;br /&gt;Tapi karena yang menyatukan hati&amp;nbsp; dan jiwa&lt;br /&gt;Tiada seorang yang berpegang pada pikiran akan tahu pesona yang melambungkan hati mereka&lt;br /&gt;Yang terbebas dari ikatan pikir&lt;br /&gt;Karena ternyata jalan – jalan ruh ditubuhku telah diselusupi cinta&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2426781968670182990-5222956921754922888?l=narkus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://narkus.blogspot.com/feeds/5222956921754922888/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://narkus.blogspot.com/2011/03/puisi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2426781968670182990/posts/default/5222956921754922888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2426781968670182990/posts/default/5222956921754922888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://narkus.blogspot.com/2011/03/puisi.html' title='PUISI'/><author><name>NARKUS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11591169986242294786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-wL6uuYcQCv0/TXdzXIbrooI/AAAAAAAAAA8/qoP7vtnrfsI/s220/Foto084.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2426781968670182990.post-308873714196841114</id><published>2011-03-08T11:48:00.000-08:00</published><updated>2011-03-08T11:48:21.587-08:00</updated><title type='text'>CERPEN: SEPOTONG SAJAK BUAT VINA</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;strong&gt;SEPOTONG SAJAK BUAT FINA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Hari &amp;nbsp;itu masih  teramat pagi. Matahari pun belum berani menampakkan Wajahnya. Namun pagi  itu Pak Usman telah sampai di kantor tempat dia bekerja.&amp;nbsp; Yah ... di  pagi yang masih terlalu awal itu pak Usman sudah sampai di halaman  sekolah. Sebagai seorang guru yang profesional, Pak Usman hampir tidak  pernah terlambat masuk kelas. Apalagi hari ini adalah hari Rabu. Hari  yang pada jam pertama dia harus masuk ke kelas XI IPA3. Kelas yang bagi  dia merupakan kelas yang istimewah. Kelas yang di dalamnya terdapat  seorang siswa yang mampu menggetarkan hatinya. Kelas yang membuat dia  harus mampu membedakan dirinya sebagai seorang ‘Bapak’ yang harus  membimbing, membina, menjaga, sekaligus memotivasi siswanya untuk maju  dengan dirinya sebagai seorang lelaki normal yang menginginkan seorang  pendamping hidup. Yah... Pak Usman adalah salah satu dari lima guru yang  masih bujang di SMA Negeri 17 Lamongan.&lt;br /&gt;Pagi itu adalah pagi yang  cukup indah dan sekaligus merisaukan bagi Pak Usman. Di satu sisi pagi  ini adalah pagi yang rencananya Pak Usman akan menuliskan sebait puisi  buat Fina. Sebait puisi yang merupakan balasan dari puisi yang telah  ditulis oleh Fina. Puisi yang di bagian akhirnya tertulis inisial Cindy  C.. Dan, memang itulah nama pena dari Fina (Firzal Nailah Azuhrah).  Tidak ada yang tahu mengapa Fina memakai nama itu, tapi bukan sebuah  rahasia lagi bahwa Cindy C. adalah nama Penanya. Di setiap karyanya dia  selalu mencantumkan nama itu. Namun, di lain sisi, pagi ini adalah pagi  yang cukup indah karena pagi ini adalah pagi yang mampu melipatgandakan  semangatnya untuk menyampaikan materi pelajaran. Pagi ini Pak Usman akan  masuk ke kelas XI IPA3. Dan, itu artinya dia akan bertemu dan bisa  melihat Fina dari dekat meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa setiap dia  masuk ke kelas tersebut perasaannya selalu berada dalam persimpangan.  Dua pilihan perasaan yang teramat sulit ditentukan ketika dia berdiri di  depan kelas. Dia tidak kuasa menentang statusnya sebagai orang tua yang  harus &lt;em&gt;‘ngemon’&lt;/em&gt; , membimbing, melindungi, mengarahkan dan  sekaligus memberi motivasi siswanya untuk berprestasi. Selain itu, dia  juga tidak mampu membohongi dirinya bahwa dia adalah seorang lelaki  normal yang memiliki hak untuk menyukai lawan jenisnya tanpa terkecuali  siswanya sendiri, FIRYAL NAILAH AZZAHRAH (FINA). Ya.... gadis pendiam  namun selalu aktif dalam setiap kegiatan itu secara diam-diam telah  mampu menyusup dalam lembar kehidupan Pak Usman. Tidak hanya cantik,  tetapi gadis yang berperawakan tinggi dan berkulit bersih ini juga  memiliki kepandaian yang cukup bisa dibanggakan. Tidak ada seorang guru  pun yang meragukan itu karena dia adalah runer up Yak Yuk Kabupaten  Lamongan tahun lalu. Namanya selalu menjadi buah bibir di ruang guru.  Ini juga yang dulu membuat Pak Usman penasaran ingin mengetahui gadis  yang bernama &amp;nbsp;FIRYAL NAILAH AZZAHRAH.&lt;br /&gt;Setelah tahun ajaran baru,  kebetulan Pak Usman mengajar di kelas yang FIRYAL NAILAH AZZAHRAH berada  di dalamnya, yaitu kelas XI IPA3. Dan, ketika kali pertama masuk ke  kelas tersebut, yang dicari pertama kali adalah FIRYAL NAILAH AZZAHRAH  (FINA). Tidak bisa dipungkiri, gadis inilah yang membuat Pak Usman  merasa ada sesuatu yang berbeda di hatinya sejak pertama dia melihatnya.  Dan, sejak pertama bertemu itulah Pak Usman selalu ingin mengetahui  lebih dalam tentang diri Fina hingga suatu ketika Pak Usman yang guru  bahasa Indonesia itu memberi tugas kepada siswa kelas XI IPA3 untuk  membuat sebuah puisi. Pak Usman memerintahkan siswanya untuk  mengungkapkan isi hati lewat sebuah puisi. Para siswa diminta untuk  menuliskan apa yang mereka pikirkan saat ini melalui sebuah puisi.  Setelah semua tugas terkumpul, di rumah, Pak Usman membaca hasil karya  siswa-siswanya satu per satu. Ketika dia membaca puisi yang di bagian  bawahnya tertulis nama Cindy C. dia tertegun. Dia ingat bahwa Cindy C.  adalah nama pena dari Fina. Lalu dia membacanya lebih dalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Pintu"&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, hati bagaikan sebuah rumah.&lt;br /&gt;Yang berpintu, agar kita punya jalan untuk keluar dan memasukinya.&lt;br /&gt;Sejak dulu aku bilang, pintu hatiku senantiasa kututup rapat,&lt;br /&gt;tapi tak&amp;nbsp; berarti tak bisa dibuka, bukan?&lt;br /&gt;bahkan kau pun telah mencoba dan nyaris berhasil membukanya.&lt;br /&gt;Sebenarnya aku tidak trauma untuk membuka pintu hatiku kembali.&lt;br /&gt;Bahkan, sangat mudah aku membukanya jikalau kau tahu caranya.&lt;br /&gt;Tak perlu banyak syarat, cukup ketuklah ia dengan sopan dan dengan ketulusan.&lt;br /&gt;Tak perlu banyak perjuangan, hanya sepenuh kesetiaan dan kesabaran&lt;br /&gt;Karena maklumilah, aku pernah, dan sering tertipu dalam membuka pintu.&lt;br /&gt;Seringkali  orang datang mengetuk pintuku, dan saat kubuka mereka justru kabur  meninggalkan aku yang telah terlanjur ramah menyambut kedatangannya.&lt;br /&gt;Wajarlah, bila kemudian timbul kecewa, bahkan saat adegan itu terjadi berulang-ulang terhadap "pintu" milikku.&lt;br /&gt;Maka, bersabarlah, karena aku senantiasa berusaha untuk bisa membuka pintuku lebar-lebar.&lt;br /&gt;Aku tak pernah jahat, buktinya aku tak pernah mengusirmu,kan?&lt;br /&gt;Itu juga salah satu tanda bahwa aku mau berusaha membuka kembali pintuku untukmu&lt;br /&gt;Membuka grendel dan gembok yang dulu kukancing rapat-rapat.&lt;br /&gt;Sekali lagi, hanya ketlatenan dan kesabaran yang aku butuhkan.&lt;br /&gt;Karena rasa trauma itu susah untuk hilang.&lt;br /&gt;Tapi aku percaya, susah itu bukan berarti tidak bisa,kan?&lt;br /&gt;dan aku berharap kau mengerti.&lt;br /&gt;Lebih dari itu, aku berharap, sangaaatt,,,sangaattt,,,dan sangat,,&lt;br /&gt;bahwa kaulah yang benar membawa kunci duplikat untuk membuka pintuku, dan penuh kesabaran betah berdiam selamanya di sana.&lt;br /&gt;Sebab, jika tidak, atau jika kau sudah tak sabar dan meninggalkanku,&lt;br /&gt;maka aku tak yakin, apakah pintuku masih bisa dibuka lagi?&lt;br /&gt;Karena jika benar kau menyerah kali ini, gembokku pasti akan terus terkunci dan berkarat,&lt;br /&gt;Sehingga pintuku, akan selalu tertutup, dan tak akan pernah terbuka lagi.&lt;br /&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; Cindy C.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia  mencoba memahami kata-kata yang ditulis oleh Fina dalam setiap  barisnya. Lalu dia menemukan sebuah makna yang teramat dalam. Dia  melihat bahwa Fina telah benar-benar mencurahkan isi hatinya lewat puisi  tersebut. Lalu, Pak Usman menyimpulkan secara sepihak bahwa puisi  tersebut benar-benar telah ditujukan padanya. Hatinya tidak tenang. Dia  ingin segera memberikan balasan puisi tersebut.&amp;nbsp; Lalu dia mencoba  menyusun kata-kata dalam selembar kertas. Setelah selesai kertas  tersebut kemudian di lipat dan dimasukkan ke saku bajunya yang besuk di  hari Rabu akan dipakai untuk mengajar.&lt;br /&gt;Hari Rabu pun tiba, pagi  sekali Pak Usman sudah ada di Ruang guru. Dia duduk di kursinya.  Pikirannya tak tenang. Hatinya gelisah menanti pertemuannya dengan Fina.  Perlahan dia bangkit dari duduknya. Kemudian berjalan menyusuri  lorong-lorong kelas. Semuanya masih sepi. Dia terus melangkahkan kakinya  menyusuri lorong kelas. Kelas X1, X2, X3,. Melewati kamar mandi X6, X7,  X8,. Berhenti sejenak di depan sanggar teater. Mengamati taman yang ada  di depan sanggar. Dia melanjutkan berjalan. Melewati XI IPA1, XI IPA2,  dan akhirnya sampai di XI IPA3. Dia tertegun. Semuanya sepi. Tak ada  suara. Tak ada orang. Tak ada bangku. Tak ada meja guru. Tak ada kursi.  Hanya ada satu cahaya putih. Dia mencoba masuk ingin mengetahui apa yang  ada di dalamnya. Dia terus melangkah..... melangkah.... dan terus  melangkah..... hingga jauh.... jauh ..... dan jauh .....&amp;nbsp; meninggalkan  semuanya. Meninggalkan ruang guru. Meninggalkan lorong-lorong kelas.  Meninggalkan sanggar teater. &amp;nbsp;Meninggalkan kelas XI IPA3. Meninggalkan  Fina. Meninggalkan semua kenangan. Meninggalkan sebuah tulisan di  selembar kertas&amp;nbsp; yang berada di dalam saku bajunya. Di ruang guru, semua  ribut. Semua berkomentar. Lalu semua menitikkan air mata. Tanpa ada  penjelasan apa-apa, tubuh Pak Usman tertidur pulas untuk selamanya di  atas kursi dengan kepala tertelungkup di atas meja dan hanya  meninggalkan sebuah catatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KERAGUAN MENGHAMBATKU&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, hatiku bagaikan seorang musyafir&lt;br /&gt;dalam perjalanan panjang yang kehabisan bekal.&lt;br /&gt;Tenggorokkanku juga sudah merindukan setetes air.&lt;br /&gt;Sementara wajahku sudah penuh dengan luka bahkan mungkin sudah bernanah.&lt;br /&gt;Mana mungkin aku akan memberanikan diri untuk memasukki pintumu&lt;br /&gt;Yang terbuat dari marmer berlapis permata&lt;br /&gt;Bahkan mengetuk pun aku masih ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya aku sangat berharap bisa masuk ke dalam ruang di balik pintu itu.&lt;br /&gt;Dan aku juga sudah dapat membayangkan betapa damainya tinggal di sana.&lt;br /&gt;Aku yakin aku akan betah untuk tetap di situ selamanya.&lt;br /&gt;Namun, ketika kaki ini mulai mendekat,&lt;br /&gt;tiba-tiba keraguan menyeretku untuk bersembunyi di balik semak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, aku akui, aku pernah bahkan beberapa kali mengetuk pintumu.&lt;br /&gt;Namun, setelah kuketuk pintumu, rasa ragu selalu kembali menyeretku&lt;br /&gt;Dan sembunyi di balik semak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maafkan aku.&lt;br /&gt;Bukannya aku kabur atau melarikan diri atau bahkan meninggalkanmu&lt;br /&gt;setelah kau membukakan pintumu lebar-lebar untukku,&lt;br /&gt;tapi semata-mata karena keraguanku yang selalu menghalangiku untuk dapat masuk&lt;br /&gt;dan &amp;nbsp;berdiam diri dalam ruang di balik pintu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, tidak berani bukan berarti tidak mau, kan?&lt;br /&gt;Maka tunggu sajalah.....&lt;br /&gt;Aku akan berusaha sekuat tenaga mengumpulkan keberanianku untuk menentang keraguan itu.&lt;br /&gt;Aku akan mencoba memasuki pintumu.&lt;br /&gt;Dan aku sangat tidak menginginkan gembokmu akan berkarat karena aku yakin&lt;br /&gt;akulah yang membawa kunci duplikat pintumu.&lt;br /&gt;Tunggulah aku.......&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; To: Cindy C. (FINA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; USM.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2426781968670182990-308873714196841114?l=narkus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://narkus.blogspot.com/feeds/308873714196841114/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://narkus.blogspot.com/2011/03/cerpen-sepotong-sajak-buat-vina.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2426781968670182990/posts/default/308873714196841114'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2426781968670182990/posts/default/308873714196841114'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://narkus.blogspot.com/2011/03/cerpen-sepotong-sajak-buat-vina.html' title='CERPEN: SEPOTONG SAJAK BUAT VINA'/><author><name>NARKUS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11591169986242294786</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-wL6uuYcQCv0/TXdzXIbrooI/AAAAAAAAAA8/qoP7vtnrfsI/s220/Foto084.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
